Mengetahui Budidaya Kelapa Sawit Andalan Indonesia

  • Whatsapp
Budidaya kelapa sawit
Budidaya kelapa sawit

Budidaya kelapa sawit di Indonesia pada awalnya oleh seorang warga negara Belgia yang bernama Adrien Hallet. Semakin lama, banyak orang yang mulai bergabung untuk ikut membudidayakan tanaman ini. Alhasil sampai saat ini kelapa sawit menjadi salah satu komoditas perkebunan yang memiliki keuntungan tinggi. Pada masa Orde Baru, pemerintah menciptakan kebijakan program Perusahaan Inti Rakyat Perkebuann (PIR-BUN).

Kelapa sawit (Elaeis guineesis) merupakan tanaman yang berasal dari Afrika Barat, pada awalnya kelapa sawit berada di Indonesia karena dibawa oleh pemerintah belanda pada tahun 1848. Pada saat adanya budidaya di Kebun Raya Bogor, awalnya hanya terdapat 2 jenis kelapa sawit yaitu kelapa sawit yang berasal dari Bourbon (Mauritius) dan dari Hortus Botanicus yang ada di Amsterdam, Belanda.

Bacaan Lainnya
Budidaya kelapa sawit
Budidaya kelapa sawit

Manfaat Kelapa Sawit

Beberapa manfaat kelapa sawit yaitu :

  1. Sebagai bahan baku pembuat minyak alkohol, lilin, sabun, dan bermanfaat untuk industri kosmetik.
  2. Sebagai bahan baku minyak goreng yang sering kita pakai untuk masak.
  3. Sisa pengolahan kelapa sawit yang tidak terpakai bisa digunakan untuk menjadi bahan campuran makanan ternak dan bisa difermentasikan menjadi pupuk kompos.
  4. Bagian Tandan kosong bisa dimanfaatkan untuk membuat mulsa tanaman kelapa sawit dan bisa juga kita menjadi bahan baku pengolahan pulp dan pelarut yang berbahan organik.
  5. Tempurung kelapa sawit yang tidak terpakai bisa bermanfaat sebagai bahan bakar dan pembuatan arang.

Hal yang Harus Diperhatikan Saat Budidaya Kelapa Sawit

1. Keadaan Lokasi

Hasil interaksi yang baik dari faktor genetik tanaman, kondisi lingkungan, dan pengelolaan yang baik dalam budidayanya. Keadaan lokasi sangat berpengaruh dalam budidaya kelapa sawit, karakteristik tanah dan lahan merupakan faktor yang paling penting dalam memilih lokasi budidaya kelapa sawit.

2. Kondisi Iklim

Tanaman kelapa sawit cocok untuk ditanam di kawasan yang memiliki curah hujan yang berkisar 2.000 sampai 3.500 mm per tahun yang merata dengan minimal 100 mm per bulannya. Dengan curah hujan yang lebih rendah maka akan menghambat perkembangan tanaman kelapa sawit sehingga hasil buah kelapa sawit menjadi turun kualitasnya. Kelapa sawit adalah salah satu tumbuhan yang berproduksi setiap tahunnya sehingga harus mendapat pasokan air yang cukup.

3. Suhu

Suhu sering berhubungan dengan ketinggian suatu tempat di atas permukaan laut. Tinggi yang cocok untuk menanam tanaman kelapa sawit adalah 200 – 400 mdpl. Dengan suhu rata-rata tahunan yang berkisar antara 24-29 derajat celcius. Tumbuhan kelapa sawit tidak disarankan untuk ditanam pada ketinggian lebih dari 500 mdpl agar kelapa sawit bisa berkembang dengan baik.

4. Cahaya Matahari

Pada umumnya kelapa sawit membutuhkan lama waktu penyinaran antara 5-12 jam per hari. Sama seperti tanaman lain, kelapa sawit juga harus menerima sinar matahari yang cukup untuk keperluan laju fotosintesisnya.

5. Topografi

Kondisi topografi sering dikaitkan dengan derajat kemiringan lahan yang akan menjadi lokasi budidaya. Semakin curam lahan maka akan semakin tinggi tingkat erosi tanahnya. Sebaiknya jangan menanam kelapa sawit dengan lahan yang memiliki kemiringan lebih dari 20 derajat. Kondisi kemiringan tanah juga akan berpengaruh pada biaya pembanguan dan pengangkutan yang semakin mahal serta lahan yang miring juga akan mengurangi volume produksi kelapa sawit.

6. Sistem Drainase

Sistem drainase lahan ikut berperan penting terhadap pertumbuhan kelapa sawit. Tanpa sistem drainase yang baik, kelapa sawit akan mudah tergenang saat ditanam di wilayah dataran rendah. Keadaan tanah juga harus diperhatikan dalam membangun drainase, khususnya di lahan yang bertanah gambut sistem drainase lahan harus benar-benar diperhatikan. Kelapa sawit tidak akan tumbuh dengan baik jika tergenang oleh air.

Beberapa Tahapan Dalam Budidaya Kelapa Sawit

Untuk menghasilkan produk kelapa sawit yang baik, bisa dengan melakukan beberapa tahapan yang baik dan benar dari budidaya kelapa sawit, yaitu :

1. Pembukaan Lahan

Pembukaan lahan perkebunan bertujuan untuk membersihkan lahan dari berbagai vegetasi yang bisa mengganggu atau menghambat pertumbuhan tanaman kelapa sawit seperti semak belukat, pepohonan, dan rerumputan. Kondisi lahan yang digunakan untuk perkebunan bisa berupa hutan primer atau sekunder, bekas lahan perkebunan lain, bekas kebun jagung, dan lainnya. Ada berbagai cara yang digunakan untuk membuka lahan baik secara manual, menggunakan alat bantu, kombinasi, atau tergantung bagaimana kondisi lahan itu sendiri.

2. Merancang Tata Letak Kebun

Dalam membangun area perkebunan ada beberapa faktor yang paling utama yaitu pembangunan jalan, sistem drainase, dan pencegah erosi. Pembangunan jalan sangat penting untuk mobilitas sarana produksi, hasil panen, alat berat, dan tenaga kerja. Sedangkan pembangunan drainase sangat penting untuk lahan yang datar karena rawan terkena pasang surut air laut, untuk lahan yang memiliki kemiringan cukup dengan membangun saluran antar blok yang nantinya bermuara menuju saluran induk. Sistem saluran drainase biasanya terdiri atas ukuran, intensitas air, dan tiper saluran cocok berdasarkan sifat dan karakteristik hujan setempat.

3. Jarak Tanam dan Pengajiran

Penentuan jarak tanam yang sesuai akan menghasilkan jumlah tanaman yang maksimal setiap satuan luas. Hal ini dapat terpengaruh oleh jenis tanah, kemiringan tanah, kesuburan tanah, dan varietas tanaman. Jarak tanam yang paling optimal adalah 9m x 9m. Sistem tanam segitiga sama sisi dapat menanam lebih banyak tanaman dari pada sistem tanam bujur sangkar. Di daerah yang kurang subur jarak tanam lebih rapat dari pada daerah yang subur.

Pengajiran dilakukan untuk menentukan dan mengukur penggalian lubang tanaman yang sesuai dengan jarak tanam. Gunakan alat ukur untuk menentukan titik pengajiran. Pengajiran yang dilakukan pada lahan yang curam sebaiknya dibuat dengan mengikuti garis kontur.

4. Penggalian Lubang

Dalam menggali lubang, bisa dilakukan secara manual atau mekanis. Biasanya cara ini tergantung dengan skala perkebunan itu, perkebunan yang kecil biasanya memakai cara yang manual sedangkan perkebunan yang besar biasanya memakai cara yang mekanis agar lebih efektif dan efisien. Mempersiapkan lubang tanam harus sudah sejak sekitar dua minggu sebelum penanaman. Pakai ukuran lubang yang berkisar antara 60 dan 90 cm. Jika tanahnya kurang subur maka buatlah lubang yang lebih besar.

5. Penanaman Tanaman Penutup

Tanaman penutup memiliki peranan yang penting dalam budidaya kelapa sawit. Hal ini bertujuan untuk melindungi tanah dari ancaman erosi, memperbaiki struktur tanah, menambah dan memperbaiki kesuburan tanah, menambah bahan organik yang ada di dalam tanah, serta dapat mengurangi biaya pengendalian untuk tanaman gulba. Jenis penutup yang biasanya digunakan adalah jenis kacang-kacangan (legume). Waktu yang tepat untuk menanam tanaman penutup adalah saat setelah tahap pembersihan gulma agar tidak tersaingi oleh pertumbuhan gulma yang baru serta tanaman penutup harus sudah ada sebelum melakukan penanaman kelapa sawit.

6. Penanaman

Penanaman lebih baik pada masa awal musim hujan. Sebelum di tanam, siram bibit yang ada di polybag. Lepaskan plastiknya dengan hati-hati kemudian masukan ke dalam lubang yang sudah siap. Tambahkan Natural GLIO yang telah berkembang dalam pupuk kandang kurang lebih selama 1 minggu ke sekitar perakaran tanaman.

7. Pemeliharaan

a)Penyulaman dan Penjarangan Tanaman

Tanaman yang rusak dan tidak baik maka gantikan dengan bibit tanaman baru yang memiliki umur 10-14 bulan.

b) Penyiangan

Melakukan penyiangan tanaman sebenarnya tergantung dengan kondisi tanaman tersebut. Biasanya cara untuk  pengendalian gulma adalah dengan piringan dan gawangan. Penyiangan dilakukan agar tidak terjadi persaingan unsur hara antar tumbuhan, dapat dengan mudah mengawasi pemupukan, menekan populasi hama. Penyiangan bukan berarti kita harus membuang habis semua tanaman lain karena hal ini malah akan menimbulkan erosi tanah.

c)Pemupukan

untuk melakukan pemupukan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan yaitu :

  • Sistem pemupukan yang dilakukan dengan cara tebar maupun cara benam.
  • Untuk sistem tebar, taburkan pupuk di piringan tanaman muda dengan jarak 0,5 meter, jika pada tanaman dewasa maka berjarak 1-2,4 meter.
  • Pada sistem tanah tapak kuda, beri pupuk pada area yang berada di dekat tebing. Pupuk lebih baik pengaplikasiannya dengan sistem pocket.
  • Sistem pocket, berilah pupuk kepada 4-6 lubang yang ada di sekeliling pohon. Kemudian tutuplah kembali lubang tersebut.

d) Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama dan penyakit bisa menyebabkan penurunan kuantitas dan kualitas tanaman. Bahkan beresiko mengalami kegagalan dan kerugikan karena hama dan penyakit tanaman karena upaya pembasmian yang terlalu . Cara pembasmian hama dan penyakit bergantung pada jenis dan karakteristiknya. Penggunaan bahan kimia untuk memberantas hama harus kita lakukan dengan hati-hati.

e) Panen

Lakukan panen kelapa sawit saat tanaman sudah berumur 30 bulan atau 6 bulan setelah kastrasi terakhir. Kriteria siap panen jika pohon yang berbuah mencapai 60 persen dengan memiliki rata-rata berat 3 kg. Mengumpulkan hasil panen pada setiap 4 barus tanaman atau normalnya 1 HK/ha. Pada lahan yang berlereng maka dengan membuat tangga panen untuk memudahkan pengumpulan kelapa sawit.

Itulah beberapa tahapan dalam budidaya kelapa sawit, untuk menghasilkan produk yang berkualitas maka harus memperhatikan juga faktor-faktor apa saja yang berpengaruh dalam pertumbuhan kelapa sawit.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *