Breaking News

Budidaya Tanaman Padi Metode SRI

Budidaya tanaman padi merupakan budidaya yang paling banyak terdapat di Indonesia. Pasalnya, makanan pokok orang Indonesia adalah nasi sehingga tidak heran jika permintaan beras di Indonesia itu sangat tinggi. Hampir semua orang Indonesia sangat bergantung pada beras, sampai-sampai belum terasa kenyang jika belum makan nasi. Penduduk Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat jumlahnya, oleh karena itu permintaan akan beras selalu tinggi. Namun kebutuhan akan pangan dapat terpenuhi jika ketersediaan pangan nasional mencukupi.

Cara lain untuk meningkatkan produksi adalah dengan ekstensifikasi dan intensifikasi, metode ekstensifikasi saat ini lebih sulit orang lakukan karena ada berbagai kendala mulai dari ketersediaan lahan tanam yang semakin menipis di Indonesia. Banyak orang yang menganggap bahwa intensifikasi lebih efektif karena intensifikasi hanya berfokus pada perbaikan mutu input. Di Indonesia ada banyak teknik yang sering petani gunakan untuk menanam padi. Salah satu teknik menanam padi yang sudah sering kita dengar adalah metode SRI (System of Rice Intensification) yang ternyata teknik ini dapat meningkatkan produktivitas berkelanjutan tanpa merusak lingkungan.

Budidaya Tanaman Padi
Budidaya Tanaman Padi

Syarat Tumbuh Tanaman Padi

1. Keadaan Iklim

Tanaman padi bisa tumbuh di lingkungan yang beriklim tropis dan subtropis. Suhu yang optimal untuk melakukan budidaya tanaman padi yaitu 23 derajat celcius, keadaan curah hujan per tahun rata-rata 1500 mm sampai 2000 mm dengan curah hujan perbulannya rata-rata 200 mm. Padi dapat tumbuh di dataran tinggi maupun di dataran rendah. Keadaan sinar matahari sangat mendukung pertumbuhan tanaman padi ini, terutama untuk proses fotosintesis.

2. Tanah

Sebenarnya tanaman padi lebih tumbuh optimal pada tanah yang subur. Dan juga bisa tumbuh pada keadaan tanah yang masam dengan pH 4-7. Sebaiknya menggunakan tanah adalah tanah yang gembur dan memiliki pori-pori yang terisi air dengan kandungan 25%.

Keuntungan Metode SRI pada Budidaya Tanaman Padi

  • Lebih hemat air, pengairan lahan pada teknik budidaya padi SRI hanya dilakukan saat tanaman berada pada fase generatif. Hal ini juga akan menekan jumlah populasi keong air yang ada di sawah karena lahan yang kering.
  • Hemat benih, karena benih yang digunakan hanya 5-10 kg per hektar
  • Hasil panen bisa meningkat mencapai 50 smapai 200 persen
  • Perbaikan mutu tanah menggunakan pupuk organik maupun anorganik
  • Menghasilkan mutu benih yang lebih bagus sehingga dapat meningkatkan hasil.
  • Tidak memberikan dampak buruk bagi lingkugan karena tidak memerlukan kebutuhan air yang banyak dan pertisida sama sekali.

Beberapa Tahapan dalam Budidaya Tanaman Padi

1. Pengolahan Tanah

Lahan harus tergenang oleh air lalu lakukan pembajakan dengan hewan ternak maupun traktor. Setelah pembajakan secara manual maupun mekanis, lalu lahan akan dibiarkan selama satu minggu, setelah satu minggu maka lahan dibajak lagi untuk yang kedua kalinya dan membiarkan lahan selama satu minggu agar bisa terbentuk lumpur. Kemudian tanah digaru dan dibuat saluran yang ada di sekeliling sawah dan tengah sawah.

2. Seleksi Benih

Lakukan perendaman benih untuk mengetahui benih yang baik, benih yang berkualitas akan tenggelam dan kemudian pakai untuk penyemaian. Perendaman benih dilakukan selama 2 x 24 jam lalu keringkan. Apabila sudah muncul maka semailah pada lahan yang telah siap untuk penanaman. Pada lahan basah dan lahan kering jarak persemaian agak jarang dan bila pada lahan konvensional maka semai dengan jarak yang lebih rapat bertujuan untuk meningkatkan kualitas benih.

3. Penyemaian

Persemaian bisa dilakukan dalam persemaian basah langsung di sawah ataupun persemaian kering melalui wadah plastik atau wadah lain. Benih yang disemai merupakan benih yang sudah kita rendam air terlebih dahulu dan benih juga sudah memunculkan tunas radikula. Lakukan penyemaian selama 7 sampai 15 hari dan tidak boleh lebih lama karena padi akan membentuk anakan sebelum berumur 21 hari. Sementara untuk penyemaian yang kering di dalam wadah harus selalu disiram agar tetap lembab.

4. Pemupukan

Pemupukan biasanya dilakukan dengan pemberian pupuk organik saat lahan baru digaru, lalu tambah dengan pemberian pupuk urea, KCL, TSP yang diberikan tiga hari sebelum tanam. Dengan penggunaan pupuk organik seperti kompos dapat menekan penggunaan pupuk organik sampai setengah dosis. Pemberian pupuk urea hanya diberikan 2 kali yaitu saat tiga hari sebelum tanam dan yang kedua pada saat penyiangan gulma yang kedua.

Petani seringkali melakukan pembakaran terhadap bekas jerami. Namun ternyata hal itu sebenarnya sangat tidak sesuai prosedur karena di sisi lain bisa merusak lingkungan. Padahal bekas jerami dapat menjadi pupuk organik yang banyak mengandung unsur mikro dan makro yang bermanfaat bagi tumbuhan.

5. Penanaman

Saat benih yang sudah disemai berumur 7 sampai 15 hari, maka lakukanlah penanaman di lubang tanam dengan menanam satu persatu bibit padi. Pemindahan bibit padi ke lahan tanah harus kita lakukan secara hati-hati dan jangan sampai benih padi yang ada di bawah bibit terlepas, karena benih tersebut masih mengandung sisa cadangan makanan yang menutrisi tumbuhan padi. Namun jangan juga mendiamkan bibit lebih dari 30 menit karena bibit yang masih muda rentan layu.

6. Penyiangan

Penyiangan bertujuan untuk membersihkan gulma yang harus dilakukan sedini mungkin. Jika terlambat dalam penanganan gulma maka gulma menjadi lebih sulit untu mengendalikannya . Lakukan penyiangan saat padi sudah berumur 7 sampai 10 hari setelah masa tanam. Lebih baik melakukan penyiangan dengan cara manual tanpa menggunakan bahan kimia.

7. Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit dengan cara mengendalikan secara terpadu meliputi pola tanam, eradikasi tanaman, penyiangan gulma, pengendalian hayati, pengendalian penggunaan bahan kimia. Hama tanaman padi yang sering menjadi permasalahan bagi petani adalah hama wereng. Namun bisa teratasi menggunakan daun surian dan tembakau perbandingan 1:1. Mencampur daun Surian dengan air dan saringlah, lalu rendamlah tembakau ke dalam air lalu saringlah. Kemudian, campurkan keduanya dengan merata dan semprotkan air campuran ke tanaman yang terkena wereng.

Hama lainnya yang terbilang sering menyerang padi adalah walang sangit, mengatasinya bisa dengan menumbuk keong emas di atas sabut kelapa dan berikan juga perangkap dari botol aqua lalu letakan di tengah-tengah. Pengendalian hama dan penyakit tanaman padi sebenarnya bisa petani lakukan dengan bahan-bahan yang alami selain karena ramah lingkungan juga mudah  oleh petani.

8. Panen dan Pasca Panen

Untuk menentukan masa panen tanaman padi yaitu saat warna padi mulai menguning 80 sampai 90 % dan gabah sudah keras. Melakukan panen bisa secara manual dengan menggunakan sabit atau secara mekanik dengan menggunakan alat perontok (treesher) atau dengan alat perontok padi (tongkang). Setelah gabah melalui proses perontokan maka tahap selanjutanya adalah pembersihan padi dengan menggunakan alat pompa angin. Kemudian, jemur gabah di bawah sinar matahari  agar menurunkan kadar air gabah sampai sekitar 14% kemudian gabah yang sudah kering bisa langsung melalui proses penggilingan. Gabah yang sudah terbuang kulitnya akan menjadi beras dan langsung masuk ke dalam karung.

Itulah beberapa tahapan budidaya padi dengan menggunakan metode SRI. Metode ini mampu meningkatkan hasil sampai dua kali lipat. Namun sayangnya belum banyak petani yang mengetahui dan memahami metode SRI.

Check Also

makanan-ikan-gabus

7 Makanan Ikan Gabus Terbaik dan Tips Budidaya Agar Cepat Besar

Indonesia memang memiliki potensi budidaya ikan air tawar yang sangat menjanjikan, salah satunya adalah ikan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *