Breaking News

Cara Memanfaatkan Bungkil Inti Sawit Menjadi Pakan Ternak

Masyarakat Indonesia banyak yang memilih untuk beternak dalam menyambung hidupnya. Baik ternak sapi ataupun berbagai macam unggas. Dalam mendukung kegiatan beternak tersebut, pastinya membutuhkan pakan untuk meningkatkan kandungan protein dari ternak. Namun biaya pakan yang tinggi kadangkala menjadi masalah bagi peternak. Untuk itu perlu adanya pakan alternatif untuk menekan biaya pakan tersebut dengan pemanfaatan bahan baku lokal yang potensial. Salah satu bahan baku potensial tersebut adalah Bungkil Inti Sawit (BIS).  BIS tersebut nantinya bisa ditambahkan atau menggantikan pakan sebelumnya.

Bungkil Inti Sawit (BIS)

Salah satu upaya pengurangan penggunaan bahan pakan komersil adalah dengan pemanfaatan bahan alternatif yang berasal dari bahan baku lokal potensial. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan limbah industri pengolahan kelapa sawit yaitu bungkil inti sawit. Bungkil Inti Sawit terpilih menjadi alternatif bahan baku pakan karena limbahnya yang cukup melimpah. Kelimpahan limbah tersebut akibat potensi kelapa sawit yang cukup besar, sehingga mendukung potensi BIS sebagai bahan baku pakan ternak.

Bungkil Kelapa Sawit

Bungkil Inti Sawit (BIS) merupakan inti dari kelapa sawit yang telah mengalami proses ekstraksi dan pengeringan, yang juga merupakan hasil ikutan industri minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil / CPO). Bagian BIS ini bisa menjadi bahan baku pakan ternak karena mengandung protein 14-17%, lemak 9,1-10,5%, serat kasar 12-18%, dan juga kaya akan mineral P, Zn, dan juga Mn. Dengan kandungan-kandungan tersebut, BIS bisa menggantikan penggunaan bahan pakan impor sumber protein seperti bungkil kedelai dan juga DGDS.

Sebagai bahan baku pakan ternak, bungkil inti sawit ini memiliki ukuran-ukuran tersendiri untuk setiap hewan ternak. Sapi perah bisa menggunakan 65% bungkil inti sawit dari bahan ransum. Sedangkan sapi potong bisa memakai 70% pada pakan ternak. Pada domba, peternak bisa memberikan bahan tersebut sebanyak 30%. Kemudian pada unggas, pemberian BIS bisa pada ukuran 5-15% saja karena serat kasar yang tinggi kurang cocok dengan sistem pencernaan unggas yang rendah. Dan pada ayam petelur, bisa menggunakan 10-15% BIS karena memiliki sistem pencernaan yang lebih baik.

Cara Pengolahan Bungkil Inti Sawit menjadi Pakan Ternak

Pengolahan bungkil inti sawit menjadi pakan ternak dilakukan menggunakan proses fermentasi. Fermentasi merupakan sebuah proses perubahan kimiawi dari senyawa kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana dengan bantuan enzim dari mikrobia. Nah proses fermentasi tersebut yang akan menyebabkan terjadinya penguraian senyawa organik dan menghasilkan energi. Selain itu, fermentasi juga akan mengubah substrat menjadi produk yang baru dengan bantuan mikrobia. Namun pastinya, pemilihan jenis mikrobia harus cocok dan kompetitif agar nantinya menghasilkan produk dengan mutu yang baik dan stabil.

1. Persiapan bahan

Tahap pertama pengolahan bungkil adalah menyiapkan segala bahan yang diperlukan. Bahan utama dalam proses ini adalah bungkil sawit 20%, pelepah sawit 70%, dan dedak 10%. Selain itu juga memerlukan bahan tambahan berupa molases sebanyak 3% dari total bahan, kemudian garam 1% dari total bahan, dan juga bakteri starter. Dalam hal ini, bakteri starter bisa menggunakan EM4 sebanyak 1 tutup botol untuk 10 liter air.

2. Pemisahan pelepah kelapa sawit

Sebelum melakukan fermentasi, dilakukan pemisahan daun pelepah kelapa sawit dengan dagingnya terlebih dahulu secara manual. Kemudian pelepah kelapa sawit tersebut dipotong menggunakan mesin chopper. Hal itu bertujuan untuk menghaluskan bungkil sawit agar mudah dicerna dan bisa meningkatkan kandungan proteinnya.

3. Proses Fermentasi Bungkil Inti Sawit

Setelah semuanya siap, maka masuk ke proses fermentasi menggunakan mikroba atau cairan enzim fermentasi. Caranya adalah dengan membuat larutan probiotik atau starter. Larutan tersebut bisa menggunakan molases yang dicampur dengan bakteri starter dan air dengan takaran 1 liter molases untuk 10 liter air. Sedangkan takaran starter disesuaikan dengan kebutuhan. Stelah itu mendiamkan campuran larutan tersebut selama 15 menit.

Langkah selanjutnya adalah mencampurkan bahan-bahan utama dengan posisi bagian paling bawah berada pada paling bawah. Kemudian, menyiramkan campuran bahan-bahan tambahan yang telah dibuat hingga rata menggunakan gembor air, dan aduk sampai rata. Yang perlu menjadi perhatian, jika proses fermentasi ini menggunakan bahan yang cukup banyak, proses pencampuran bisa menggunakan teknik lapisan-lapisan yaitu membuat campuran pelepah, bungkil, dan dedak dengan tinggi sekitar 10-15 cm dan siram dengan larutan probiotik. Selanjutnya, buat lapisan kembali di bagian atasnya dengan proses yang sama hingga bahan habis, dan aduk hingga merata.

4. Pengemasan hasil fermentasi

Tahap terakhir adalah setalah melalui proses fermentasi, kemudian memasukkan campuran tersebut ke dalam drum plastik atau silo dan memadatkannya hingga kedap udara. Selanjutnya, tutup wadah tersebut dengan plastik dengan rapat. Kemudian, campuran tersebut didiamkan selama kurang lebih 7-14 hari agar melalui proses fermentasi secara anaerob dengan sempurna.

Ketika tahap fermentasi anaerob tersebut, perlu untuk dilakukan pengecekan suhu dan pH agar proses fermentasi lancar. Pengecekan bisa dilakukan 2-3 kali selama proses fermentasi berlangsung. Setelah itu, campuran pakan tersebut sudah siap pakai sebagai pakan dasar pengganti rumput segar atau pakan lainnya, dan juga bisa untuk cadangan makanan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Fermentasi

Bungkil inti sawit yang telah terfermentasi dengan baik bisa meningkatkan kandungan gizi untuk pakan ternak. Namun pastinya, proses fermentasi tersebut harus dengan cara yang tepat. Selain itu, terdapat beberapa faktor yang bisa mempengaruhi keberhasilan fermentasi, yaitu :

1. Keasaman

Pakan yang mengandung asam memang bisa tahan lama. Namun jika terlalu banyak, maka pakan akan terfermentasi terus menerus, maka daya awet dari asam bisa saja menghilang. Maka dari itu, tingkat keasaman sangat berpengaruh terhadap perkembangan bakteri. Kondisi keasaman untuk bakteri yang baik adalah antara 4,5-5,5.

2. Mikroba

Proses fermentasi membutuhkan mikroba. Mikroba yang baik adalah yang berasal dari kultur murni dari laboratorium yang tersimpan dalam keadaan kering atau beku.

3. Suhu

Tingkat suhu yang baik untuk fermentasi akan mempengaruhi mikroba yang memiliki tingkat pertumbuhan yang berbeda-beda. Suhu yang optimal adalah suhu yang bisa membantu perbanyakan diri lebih cepat.

4. Oksigen

Selama proses fermentasi, oksigen atau udara harus teratur karena bisa memperbanyak atau menghambat pertumbuhan mikroba. Setiap mikroba memiliki kebutuhan terhadap oksigen tersendiri dalam pembentukan sel-sel baru untuk fermentasi.

Cara Lain Pengolahan Bungkil Inti Sawit

Selain fermentasi, ternyata terdapat cara lain yang bisa menjadi alternatif dalam pengolahan bungkil inti kelapa sawit menjadi pakan ternak. Karena beberapa peternak atau petani menganggap proses fermentasi kurang praktis karena perlu pengolahan ekstra. Sehingga mereka memilih cara lain yaitu dengan membiarkan bungkil inti sawit yang dimasukkan ke dalam tong hingga membusuk dan menghasilkan larva maggot BSF. Maggot merupakan anak lalat dari jenis lalat tentara hitam. Ternyata, maggot juga memiliki kandungan protein yang cukup tinggi hingga 40-50%. Nantinya, bungkil yang telah membusuk dijadikan pakan ternak, dan Maggot BSF tersebut untuk pakan ikan, unggas, dan juga burung.

Nah itulah beberapa hal tentang bungkil inti sawit dan cara pengolahannya menjadi pakan ternak. Selain memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, BIS ini memiliki harga yang cukp murah karena ketersediaannya yang cukup melimpah. Hal itu karena Indonesia memang merupakan negara penghasil kelapa sawit terbesar nomor satu di Indonesia. Jadi, ada baiknya untuk memproses limbah sawit tersebut menjadi barang yang bermanfaat.

Check Also

How do you start your own small-scale business (2)

How do you start your own small-scale business?

Hasilbumi.net – Name and logo creation are easy tasks. But what about the other crucial, yet …

Leave a Reply

Your email address will not be published.