Breaking News

Berkenalan dengan Teknik Red Water System untuk Budidaya Lele

Budidaya ikan memang menjadi salah satu usaha di bidang perairan yang memiliki potensi dan peluang yang sangat besar. Salah satunya adalah budidaya lele. Ada banyak metode yang bisa Anda gunakan dalam budidaya lele, salah satunya adalah dengan menerapkan teknik red water system. Teknik ini muncul sebagai salah satu metode yang banyak pembudidaya pilih karena kemudahan dan keunggulannya yang bagus. Jika Anda tertarik akan teknik ini, berikut informasi selengkapnya untuk Anda.

Tentang Teknik Red Water System (RWS)

red water system
(sumber gambar: wicaramina.blogspot.com)

Jadi, red water system merupakan suatu teknik yang bisa pembudidaya terapkan dalam proses pembesaran benih dari ikan lele. Pada dasarnya, metode ini akan memanfaatkan bakteri berjenis Lactobacillus dan bakteri jenis Sakromises untuk membersarkan benih ikan lele yang Anda budidayakan. Bahan yang Anda pakai dalam teknik ini adalah fermentasi dari minuman Yakult, ragi tape, dan dari jenis Molassess (tetes tebu / gula merah / gula jawa).

Teknik ini menjadi alternatif budidaya yang bisa menghilangkan rasa khawatir para pembudidaya lele terhadap adanya tumpukan kotoran ikan atau sisa pakan. Umumnya, sisa pakan dari budidaya lele memang menumpuk di dasar kolam dan bisa menjadi pemicu munculnya berbagai penyakit yang bisa menyerang kesehatan ikan lele.  Hal yang berbeda justru terjadi pada sitem RWS.

Dalam teknik red water system, berbagai kotoran berupa kotoran ikan dan tumpukan pakan yang dulunya mengganggu justru akan bermanfaat sebagai supply makanan untuk bakteri jenis Lactobacillus dan juga bakteri Sakaromises. Kedua jenis bakteri inilah yang menjadi pakan utama dari lele yang Anda budidayakan. Kedua bakteri tersebut akan Anda gunakan dan tanpa harus mengganti air kolam lele selama budidaya mulai dari pembesaran benih sampai dengan proses panen.

Tahapan Proses Fermentasi dalam Teknik RWS

Nah, perlu Anda ketahui bahwa ada beberapa tahapan pengolahan air yang harus Anda lakukan terlebih dahulu sebelum penerapan teknik red water system bisa berjalan sepenuhnya. Secara keseluruhan, berbagai tahapan tersebut masuk dalam lingkup Natural Water System (NWS). NWS merupakan keseluruhan sistem yang akan Anda gunakan dalam budidaya ikan lele dengan memanfaatkan sistem pengairan alami.

Proses budidaya lele akan melewati berbagai tahap perubahan warna air yang berguna sebagai tanda teknik pembesaran lele. Tahapannya bermula dari proses Green Water System (GWS), kemudian berubah warna menjadi Brown Water System (BWS), dan yang terakhir barulah berubah menjadi Red Water System (RWS). Apabila proses perubahan warna air sudah terjadi, maka perubahan berbagai mikroba yang terlibat dalam keseluruhan proses NWS sudah berhasil Anda lakukan.

Cara kerjanya adalah satu mikroba yang mati akan terganti dengan jenis mikroba yang lain. Dalam proses penggantian mikroba inilah, Anda sebagai pembudidaya ikan harus memperhatikan kondisi ikan lele dan membantunya untuk berdaptasi. Anda harus memahami setiap karakteristik warna dari kolam ikan ketika berubah warna. Dengan begitu, Anda bisa membantu proses adaptasi ikan menjadi lebih lancar dan budidaya bisa berhasil.

Sebagai catatan, bagi Anda pembudidaya yang memiliki jumlah air untuk kolam yang melimpah, maka alternatif yang bisa Anda pilih adalah menggunakan teknik Green Water System (GWS) saja. Namun, jika memang jumlah air budidaya terbatas, maka RWS adalah opsi terbaik untuk Anda ambil. Perlu Anda pahami juga bahwa perubahan warna air kolam menjadi merah, itu terjadi secara natural atau alami.

Catatan lainnya adalah untuk menambahkan sejumlah arang pada bagian pinggir kolam. Pembudidaya ikan lele mungkin akan merasa khawatir dengan adanya tumpukan sisa pakan dan kotoran ikan lele yang tidak terserap sepenuhnya oleh kedua bakteri tersebut. Namun, hal ini bisa Anda atasi dengan menambahkan arang. Fungsi arang adala sebagai penyerap berbagai sisa kotoran dan pakan yang terbuang dan tidak bakteri makan.

Baca Juga: 10 Daftar Hewan Peliharaan Termahal Irfan Hakim

Proses Pembuatan Kolam Lele dengan Teknik Red Water System 

red water system
(sumber gambar: youtube.com)

Sebelum membangun kolam, perlu Anda pahami bahwa teknik RWS ini hanya efektif dan ideal untuk penebaran benih dengan jumlah benih sekitar 300 ekor/m3 saja jika tanpa menggunakan aerasi. Namun, jika menggunakan bantuan aerasi, Anda bisa menebar benih lele hingga berjumlah 500 ekor/m3. Semua ukuran ini tidak akan berubah dan tidak perlu melakukan penggantian air sampai panen tiba.

Tahap pembuatan kolam untuk sistem RWS juga tergolong mudah. Anda perlu menyiapkan beberapa bahan seperti:

  • 18 liter air bersih
  • 2 butir ragi tape (tumbuk halus terlebih dahulu)
  • 4 botol yakult
  • 1 liter tetes tebu atau molasses (Apabila susah Anda temukan, maka penggantinya adalah gula merah atau gula jawa)
  • Dedak atau bekatul yang halus sebanyak setengah (0.5) kilogram
  • Air kelapa murni dari 1 butir kelapa yang sudah benar-benar tua

Setelah semua bahan selesai Anda persiapkan, barulah proses pembuatan kolam bisa terlaksana. Tahapannya adalah sebagai berikut:

1. Olah Semua Bahan 

Cara yang pertama adalah mengolah semua bahan yang sudah Anda siapkan sebelumnya. Silahkan masukkan 18 liter air bersih ke dalam sebuah jerigen. Pastikan baik air ataupun jerigennya berada dalam kondisi yang bersih supaya proses fermentasi berjalan lancar. Setelah itu, silahkan tuang 4 botol yakult, 1 liter molasses, air kelapa murni, serta 2 butir ragi tape yang sudah Anda siapkan sebelumnya.

Kocok cepat semua bahan dalam jerigen tersebut selama 1 sampai 2 menit sampai semua bahan benar-benar tercampur dengan rata. Jika sudah, sisihkan dan simpan jerigen berisi semua bahan tersebut selama 6 sampai 7 hari supaya proses fermentasi bisa berjalan dengan sempurna. Apabila proses fermentasi berhasil, maka air di dalam jerigen akan berubah warna menjadi coklat dan mengeluarkan aroma alkohol yang kuat.

2. Mengaplikasikan Bahan Dalam Jerigen ke Kolam Lele 

Setelah mencapai hari ke-7, maka waktunya pengaplikasian bahan tersebut ke kolam lele. Caranya, pastikan bahwa kolam lele masih dalam keadaan yang bersih dan bebas dari kandungan logam berat dan sudah ada benih ikan lelenya. Kemudian, silahkan teteskan secara merata bahan fermentasi Yakult yang sudah Anda buat di dalam jerigen sebelumnya secara merata ke seluruh bagian kolam. Takarannya adalah:

Setiap 1 m3 (meter kubik kolam), bisa Anda teteskan sebanyak 100 ml bahan ferementasi yang terbuat dari campuran yakult. Ukuran ini setara juga dengan 1/2 (Setengah) gelas Aqua. 

Sisa bahan jerigen yang lain, maka tetap simpan dan nantinya akan Anda gunakan pada hari-hari berikutnya. Ulangi proses penetesan bahan dari jerigen ke kolam ikan lele setiap hari dengan jarak waktu setiap 24 jam hingga masa panen lele tiba. Anda membutuhkan kesabaran yang cukup ekstra agar proses pemberian bahan ini berjalan lancar dan tanpa hambatan.

3. Perawatan Kolam Ikan Lele 

Seperti yang sudah kami jelaskan pada bagian sebelumnya, Anda bisa meletakkan arang pada bagian pinggir-pinggir kolam ikan lele. Jumlahnya sebanayak 1 kg arang per m3. Tujuannya adalah sebagai bahan penyerap sisa kotoran yang tidak termakan oleh bakteri. Anda juga bisa memasang 2 buah titik selang aerasi udara di dalam kolam ikan lele.

Tujuan adanya aerasi ini adalah untuk mengaduk bakteri Lactobacillus dan  Sakaromises yang berada di dasar kolam. Dengan pengadukan itu, bakteri akan tetap berada di dasar kolam secara merata.  Selain itu, pada proses tersebut Anda juga jangan panik apabila kolam mulai berubah menjadi warna merah. Sebab, justru ini menjadi tanda bahwa penerapan teknik red water system berjalan dengan baik dan sehat bagi ikan. Tandanya juga kotoran ikan dan pakan sudah terserap dengan baik oleh kedua bakteri tersebut.

4. Memberi Ikan Lele Pakan 

Dalam proses budidaya ini, ikan lele akan makan pelet yang harus Anda bibis atau rendam air hangat terlebih dahulu. Setelah rendam dengan air hangat, pelet harus Anda angin-anginkan terlebih dahulu baru bisa Anda sebar ke area kolam. Tujuannya adalah supaya pelet pakan ikan lele menjadi lebih lembut dan bisa ikan lele makan dengan optimal. Dengan begitu, benih bisa tumbuh sehat dan baik. Untuk takaran pemberian pakan adalah:

  • Umur benih 3-15 sehari 4 kali makan
  • Benih umur 15-25 sehari 3 kali makan
  • Umur benih 25-35 sehari 3 kali makan
  • Umur benih 35-45 sehari 2 kali makan
  • Benih umur 45-60 sehari 2 kali makan
  • Umur 60 hingga panen sehari 2 kali makan

Itulah informasi seputar teknik red water system yang bisa Anda terapkan untuk budidaya ikan lele. Bagaimana, apakah Anda tertarik untuk mencoba teknik ini? Semoga bermanfaat ya!

Red water system adalah teknik dalam budidaya ikan lele yang bisa Anda praktekkan. Inilah ulasan tentang red water system selengkapnya.

Check Also

8 Tipe Sakit Mata Pada Kucing

8 Tipe Sakit Mata Pada Kucing

Selamat Datang di Web Hasilbumi.net, tempat beraneka ragam berbagai budidaya yang hendak dihidangkan dalam website ini dengan cara rinci serta perinci. Dibawah ini aku hendak mangulas modul mengenai Sakit Mata, selanjutnya uraiannya: Di Indonesia sendiri, aku apalagi sudah memandang beberapa besar kucing serta pengkhususan lokal aku berkeliaran. Banyak orang kekurangan tipe ini ataupun tidak menyukainya [...]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *